Make your own free website on Tripod.com

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

A. HASIL PRAKTEK LAPANG

    1.   Hutan Rakyat    

           Pelaksanaan Hutan Rakyat memiliki rangkaian  kegiatan, antara lain :

A.    Pemilihan Jenis tanaman

Jenis tanaman pokok Hutan Rakyat di dominasi oleh tanaman kayu – kayuan berdaur panjang dengan fungsi serba guna, yaitu dipilih Jati (Tectona grandis) dengan jumlah 5.125 batang per lokasi dan Karet (Havea brasiliensis) dengan jumlah 21.000 batang per lokasi. Jenis tanamn ini dipilih selain memnuhi syarat kesesuaian lahan dan diminati masyarakat karena dapat menghasilkan produk utama kayu dan getah (Karet).

B.  Pelaksanaan Kegiatan Hutan Rakyat

1.   Pembersihan lahan

Kegiatan ini dilakukan sebelum penanaman yang meliputi :

-     Menebang pohon sisa dan meninggalkan pohon yang dilarang untuk ditebang

-     Mengumpulkan semak belukar, alang – alang dan rumput – rumputan

-     Pembersihan sampah.

2.     Pengolahan tanah

-    Tanah dicangkul sedalam 20 – 25 Cm kemudian dibalik.

-    Bungkalan tanah dihancurkan, akar – akar dikumpulkan dan dibakar.

-   Tanah pada jalur tanam dihaluskan dan dibersihkan kemudian dibuat lubang tanam.

3.     Pengangkutan bibit

Pengangkutan bibit dilakukan secara hati – hati agar tidak mengalami kerusakan selama dalam perjalanan. Bibit yang te;ah diseleksi dimasukkan ke dalam peti atau keranjang dengan disusun rapat sehingga tidak bergerak jika dibawa atau ditumpuk. Bibit yang dibawa ke lapangan adalah bibit yang sehat dan segar, dan dihindarkan dari panas matahari serta disimpan di tempat teduh dan terlindung.

4.     Penanaman

Tahapan pelaksanaan kegiatan penanaman meliputi :

a.       Pengaturan arah larikan

-     Penentuan arah larikan pada penyiapan lahan secara manual dan kimiawi (herbisida) dilakukan sebelum kegiatan pembersihan lapangan, karena arah larikan tanaman membantu arah jalur tanaman pada saat akan dibersihkan.

-     Arah larikan tanaman pada daerah landai dibuat Utara – Selatan atau Timur – Barat, sedangkan pada areal bertopografi curam arah larikan sejajar dengan kontur.

-     Untuk memudahkan pekerjaan, penentuan arah larikan dimulai dari batas kawasan areal tanaman, jalan hutan atau batas blok / petak.

b.      Pemasangan ajir

Pemasangan ajir dilakukan setelah pembersihan lahan dengan cara menarik tali dari arah larikan pertama dengan arah sejajar, dan mengikuti jarak tanam yang telah ditetapkan  pada rancangan tanaman (6 x 6 m untuk Jati dan 5 x 5 m untuk Karet).

c.       Distribusi bibit

-     Distribusi bibit adalah pekerjaan pemindahan bibit dari persemaia ke areal tanam.

-     Pendistribusian ke lokasi penanaman dilakukan setelah kegiatan pembuatan lubang tanam.

-     Dalam distribusi bibit terdapat hal – hal yang perlu diperhatikan, antara lain:

1)      Bibit yang diangkut dengan dipikul, jangkauan maksimumnya sejauh 2 Km dari tempat pengumpulan bibit di lapangan.

2)            Jumlah bibit yang diangkut esuai dengan jadwal penanaman serta kemampuan regu tanam.

d.   Pembuatan lubang tanam dan penanaman

-     Pembuatan lubang tanam dilakukan dekat ajir, dengan ukuran lubang 30 x 30 x 20 Cm.

-     Karena bibit mengunakan Ploy Bag, maka sebelum bibit ditanam kantong plastik dilepas dengan cara dirobek yang medianya terlebih dahulu dipadatkan dengan cara memeras atau menekan Poly Bag tersebut.

-     Bibit diletakan di tengah lubang secara vertikal, terus ditimbun hati – hati dengan tanah sekitar sampai batas leher. Dalam menimbun upayakan topsoil dimasukkan ke lubang terlebih dahulu. Kemudian tanah sekitar bibit dipadatkan dengan jalan ditekan secara hati – hati sampai terjadi kontak antara perakaran dengan tanah.

e.   Waktu penanaman

Penanaman di lapangan dilakukan pada saat musim hujan, terutama saat hujan telah merata dan tanah sudah cukup lembab. Waktu pelaksanaan dilakukan  pada pagi hari terutama pada saat cuaca agak mendung / berawan.

f.        Pemeliharaan tanaman

Pemeliharaan tanaman dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan tanaman sedemikian rupa sehingga dapat diwujudkan keadaan optimum bagi pertumbuhan tanaman. Pada tahun pertama dilakukan melalui kegiatan penyulaman, pengendalian gulma, penyiangan, pendangiran dan pemupukan. Sedang pada tahun ke dua cukup dilakukan kegiatan pengandalian gulma dan pendangiran saja.

C.  Peningkatan produksi

Untuk usaha peningkatan produksi, areal penanaman diberi pupuk NPK sebanyak 392 Kg per lokasi dan herbisida sebanyak 10 Liter per lokasi.

D.  Pembuatan saran dan prasarana

Pembuatan sarana dan prasarana dimaksudkan sebagai penunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan perancanaan, pembinaan, pengawasan, pemeliharaan, pengamanan dan penilaian. Sarana dan prasarana tersebut meliputi :

-           Jalan hutan yang terdiri dari jalan induk, jalan cabang dan jembatan bila diperlukan

-    Sekat bakar

-    Pondok kerja

-    Kantong air

-    Menara pengawas api

E.     Perlindungan dan pengamanan tanaman

Kegiatan ini merupakan upaya pencegahan dan pengendalian terhadap gangguan hama dan penyakit, kebakaran hutan dan perambahan hutan.

1.   Pengendalian hama dan penyakit

-         Memotong dan memangkas bagian tanaman yang sakit dan memusnahkan dengan jalan dibakar di tempat – tempat tertentu.

-         Membersihkan lingkungan (daun – daun bekas terserang hama dan penyakit yang jatuh di sekitar tanaman) dikumpulkan dan dibakar.

-         Bila tanaman  telah terserang lebih dari 10 %, maka dilakukan penyemprotan bahan kimia dan pestisida.

2.   Pengendalian kebakaran

-         Pendekatan terhadap masyarakat melalui kegiatan penerangan dan penyuluhan, pengendalian perladangan berpindah, peningkatan partisipasi masyarakatdalam pengamanan hutan serta penyiapan landasan hukum yang mantap.

-         Melaksanakan pemeliharaan tanaman yang insentif dan membersihkan areal tanaman dari sumber bahan bakar.

-         Menyiapkan dan membangun sarana dan prasarana seperti sekat bakar, menara api dan kantong air.

3.   Penanggulangan bahaya kebakaran

-         Membina kerjasama dengan Pemerintah  daerah dan Pamong Desa setempat dalam upaya peningkatan partisipasi masyarakat.

-     Membentuk regu penanggulangan / pemadam kebakaran hutan.

-     Membuat / menyiapkan sekat bakar.    

         Dari hasil orientasi lapangan diperoleh lokasi dan kelompok tani peserta sebagai berikut :

Tabel 3. Lokasi dan kelompok tani peserta Hutan Rakyat.

No

Desa/Kecamatan

Luas (Ha)

Nama Kelompok Tani

Jumlah Anggota

1

2

3

4

5

6

7

 

8

9

10

11

12

13

14

Kedamin Hulu / Kedamin

Jaras / Kedamin

Tanjung Jaya / Kalis

Suka Maju / Mentebah

Na. Suruk / Bunut Hulu

Sriwangi / Boyan Tanjung

Kerangan Panjang / Batu Datu

Na. Luan / Silat Hulu

Lawik / Embaloh Hilir

Cinta Damai / Embau

Gerayau / Selimbau

Suhaid / Suhaid

Seberuang / Semitau

Seriang / Badau

100

100

100

100

100

100

100

 

100

100

100

100

100

100

100

 

Na. Baong

Gaga Begulai

 

 

 

 

Cahaya Baru

 

Serabun Lestari

 

Senara Jaya

Bina Bersama

 

Setia Kawan

50 orang

50 orang

50 orang

50 orang

50 orang

50 orang

50 orang

 

50 orang

50 orang

50 orang

50 orang

50 orang

50 orang

50 orang

 

J u m l a h

1.400

 

700 orang

Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebunan  Kab. Kapuas Hulu 2001

2.      Penanaman Pohon Kehidupan (PPK)

Dalam pelaksanaan kegiatan Penanaman Pohon Kehidupan ada beberapa tahapan yang  harus dilakukan, antara lain :

A.  Pemilihan pola tanam dan jenis tanam

Penanaman  diupayakan terkonsentrasi dalam satu hamparan yang cukup luas. Jenis tanaman pilihan dan penentuan jenis tanaman memperhatikan kondisi fisik dan kemauan masyarakat sekitar hutan (daerah penyangga) dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi.

B.   Pelaksanaan Kegiatan

1.   Pengadaan bibit

Adapun jenis tanaman yang di tanam adalah MPTS (Multi Purpose Tree Species) dengan jumlah 6.100 batang per lokasi dan Karet (Havea brasiliensis) dengan jumlah 26.300 batang per lokasi.

2.   Penyiapan lahan

a.       Pembersihan lahan

Pembersihan lahan dapat dilakukan secara manual atau kimiawai / herbisida dlam bentuk piringan tanaman, jalur atau total tergantung kondisi lapangan dengan ketentuan sebagai berikut :

-     Areal dengan topografi agak curam yang ditumbuhi rumput / alang – alang atau semak belukar, pembersihan lapangannya dilakukan secara manual terbatas pada piringan tanaman.

-     Areal dengan topografi datar sampai landai yang ditumbuhi rumput / alang – alang atau semak belukar dan tanahnya peka sampai dengan sangat peka terhadap erosi, pembersihan lapangan dilakukan secara manual atau secara kimia / herbisida pada sistem jalur.

-     Areal dengan vegetasi alang – alang murni (hamparan), penyiapan lahan dapat dengan menggunakan herbisida secara total.

b.   Pengolahan tanah dan pembuatan lubang tanam

-     Pengolahan tanah dimaksudkan untuk memperbaiki sifat fisik tanah dan kimia tanah dengan jalan menggemburkan tanah sekitar tanaman, kegiatan tersebut dapat dilakukan secara manual (cangkul).

-     Lubang tanam disesuaikan dengan jarak tanam dan arahan larikan tanaman yang lebih ditetapkan pada rancangan, dan ukuran lubang tanaman dibuat sedemikian rupa sesuai dengan jenis tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

3.   Penanaman

Tahapan pelaksanaan penanaman meliputi :

a.       Pengaturan arah larikan

-     Penentuan arah larikan pada penyiapan lahan secara manual dan kimiawi (herbisida) dilakukan sebelum kegiatan pembesihan lahan, karena arah larikan tanaman membantu arah jalur tanaman pada saat akan dibersihkan.

-     Arah larikan tanaman pada areal landai dibuat Utara – Selatan atau Timur – Barat, sedangkan areal pada topografi yang curam arah larikannya tanaman sejajar kontur.

-     Untuk memudahkan pekerjaan, penentuan arah larikan dimulai batas kawasan (Areal Tanaman), jalan hutan atau batas blok / petak.

b.      Pemasangan ajir

Pemasangan ajir dilakukan setelah pembersihan lahan dengan cara menarik tali dari arah larikan pertama dengan arah sejajar, dan mengikuti jarak tanam yang telah ditetapkan pada rancangan tanaman.

c.       Distribusi bibit

-     Distibusi bibit adalah pekerjaan memindahkan bibit dari lokasi persemaian ke areal tanam.

-     Pendistribusian bibit ke lokasi penanaman dilakukan setelah pembuatan lubang tanam.

-     Dalam kegiatan distribusi bibit terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan :

1)      Bibit diangkut dengan dipikul, jangkauan maksimum sejauh 2 (dua) Km dari tempat pengumpulan bibit di lapangan.

2)      Jumlah bibit yang diangkut sesuai dengan jadwal penanaman serta kemampuan regu tanam.

d.      Pembuatan lubang tanam dan penanaman

-     Pembuatan lubang tanam dilakukan dekat ajir, dengan ukuran lubang 30 x 30 x 20 Cm.

-     Karena bibit mengunakan Ploy Bag, maka sebelum bibit ditanam kantong plastik dilepas dengan cara dirobek yang medianya terlebih dahulu dipadatkan dengan cara memeras atau menekan Poly Bag tersebut.

-     Bibit diletakan di tengah lubang secara vertikal, terus ditimbun hati – hati dengan tanah sekitar sampai batas leher. Dalam menimbun upayakan topsoil dimasukkan ke lubang terlebih dahulu. Kemudian tanah sekitar bibit dipadatkan dengan jalan ditekan secara hati – hati sampai terjadi kontak antara perakaran dengan tanah.

e.       Waktu penanaman

Penanaman di lapangan dilakukan pada saat musim hujan, terutama saat hujan telah merata dan tanah sudah cukup lembab. Waktu pelaksanaan dilakukan  pada pagi hari terutama pada saat cuaca agak mendung / berawan.

f.        Pemeliharaan tanaman

Pemeliharaan tanaman dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan tanaman sedemikian rupa sehingga dapat diwujudkan keadaan optimum bagi pertumbuhan tanaman. Pada tahun pertama dilakukan melalui kegiatan penyulaman, pengendalian gulma, penyiangan, pendangiran dan pemupukan. Sedang pada tahun ke dua cukup dilakukan kegiatan pengandalian gulma dan pendangiran saja.

g.       Pembuatan saran dan prasarana

Pembuatan sarana dan prasarana dimaksudkan sebagai penunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan perancanaan, pembinaan, pengawasan, pemeliharaan, pengamanan dan penilaian. Sarana dan prasarana tersebut meliputi :

-     Jalan hutan yang terdiri dari jalan induk, jalan cabang dan jembatan bila diperlukan

-     Sekat bakar

-     Pondok kerja

-     Kantong air

-     Menara pengawas api

3.      Perlindungan dan pengamanan tanaman

Kegiatan ini merupakan upaya pencegahan dan pengendalian terhadap gangguan hama dan penyakit, kebakaran hutan dan perambahan hutan.

                              a.     Pengendalian hama dan penyakit

-  Memotong dan memangkas bagian tanaman yang sakit dan memusnahkan dengan jalan dibakar di tempat – tempat tertentu.

-   Membersihkan lingkungan (daun – daun bekas terserang hama dan penyakit yang jatuh di sekitar tanaman) dikumpulkan dan dibakar.

-     Bila tanaman  telah terserang lebih dari 10 %, maka dilakukan penyemprotan bahan kimia dan pestisida.

b.      Pengendalian kebakaran

-     Pendekatan terhadap masyarakat melalui kegiatan penerangan dan penyuluhan, pengendalian perladangan berpindah, peningkatan partisipasi masyarakatdalam pengamanan hutan serta penyiapan landasan hukum yang mantap.

-     Melaksanakan pemeliharaan tanaman yang insentif dan membersihkan areal tanaman dari sumber bahan bakar.

-     Menyiapkan dan membangun sarana dan prasarana seperti sekat bakar, menara api dan kantong air.

c.       Penanggulangan bahaya kebakaran

-     Membina kerjasama dengan Pemerintah  daerah dan Pamong Desa setempat dalam upaya peningkatan partisipasi masyarakat.

-     Membentuk regu penanggulangan / pemadam kebakaran hutan.

 

                                                           Tabel 4.

         Pelaksanaan kegiatan Penanaman Pohon Kehidupan Tahun 1998 / 2001

                                    

No

Desa/Dusun

Kecamatan

Kelompok Tani

Bantuan

(Jenis Tanaman)

Vol.

(Unit/Ha)

Nama

Jlh Angg.

1

2

3

4

5

6

7

8

 

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

Landau Kumpang

Keduai

Emperiang

Sungai Mali

Benua Tengah

Nanga Danau

Jongkong Hulu

Riam Mengelai

 

Selaup

Sei. Uluk Palin

Sebalang

Lubuk Antuk

Mubung

Batu Buin

Mensasak

Nanga Lauk

Nanga Balang

Tanjung

Padua Mendalam

Sungai Medang

Sungai Ringin

Nanga Dangkan

Belikai

Benuis

Jaung / Teluk Aur

Hulu Gurung

Hulu Gurung

Seberuang

Silat Hilir

Embaloh Hilir

Manday

Suhaid

Boyan Tanjung

 

Bunut Hulu

Embaloh Hilir

Seberuang

Hulu Gurung

Hulu Gurung

Hulu Gurung

Hulu Gurung

Embaloh Hilir

Kedamin

Mentebah

Putussibau

Hulu Gurung

Silat Hilir

Silat Hulu

Seberuang

Selimbau

Bunut Hilir

Bukit Piyabung

Sinar Agung

Riam Panjang

Suka Ramai

Harapan Kita

Usaha Maju

Harapan Maju

Mujung Jaya, Alam Lestari

Kumpang Permai

Tani Sorongan

Tuah Kitai

Alur Deras

Cundai Karangan

Sinar Pois

Bukit Tinggi

Usaha Maju

Nanga Muti

Semangai

Maring Tubu’

Medang Pulang

Harapan Kita

Tunas Harapan

Tunas Muda

Bukit Raya

Jaung Bersatu

40

40

40

40

40

40

20

20

20

20

20

20

20

20

20

20

20

20

20

50

50

50

50

50

50

50

 

 

 

Karet

dan

MPTS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Karet

Dan

MPTS

73,3

76,7

60

60

60

60

24

24

24

24

24

24

24

24

22,87

45,72

22,87

22,87

22,87

100

100

100

100

100

100

100

 

J U M L A H

 

 

 

 

1419,20

Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Kapuas Hulu 2001

B. PEMBAHASAN

1.   Hutan Rakyat (HR)

         Sejauh ini pelaksanaan kegiatan Hutan Rakyat yang dijalankan oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kapuas Hulu cukup berhasil, meskipun masih ada kelompok masayarakat tertentu yang kurang begitu antusias dengan program ini. Dari dua Desa yang dijadikan contoh dalam pengamatan kegiatan RHL ini (Desa Na. Baong dan Na. Kalis), masing – masing memiliki respon yang berbeda terhadap program tersebut. Desa Nanga Baong begitu antusias dengan  adanya kegiatan Hutan Rakyat ini,  bahkan Kelompok Tani setempat merasa perlu untuk menambah jumlah bibit (terutama Jati) untuk ditanam , karena dari luas areal 100 Ha yang ada belum semuanya di tanami. Sedangkan masyarakat Desa Nanga Kalis  menganggap bahwa dalam pelaksanaan program ini pihak Dinas Kehutanan dan Perkebunan terlalu banyak campur tangan, maksudnya adalah masyarakat seharusnya dibiarkan untuk lebih mandiri dalam pengelolaan kegiatan HR ini. Fenomena seperti ini disebabkan karena informasi yang telah disampaikan ke masyarakat kurang begitu mengenai sasaran, sehingga masih ada kerancuan atau kesalahpahaman terhadap bagaimana program tersebut seharusnya dijalankan.       

         Menurut Rencana Teknis Rehabilitasi Hutan dan Lahan (2001), kegiatan Hutan Rakyat memiliki manfaat yang sangat besar baik dari segi ekonomi maupun ekologi. Adapun manfaat tersebut antara lain :

§         Memenuhi kebutuhan kayu untuk keperluan bahan bangunan, kerajinan, bahan bakar dan bahan baku industri pulp.

§         Mencegah erosi dan memelihara tata air.

§         Memelihara lingkungan yang baik.

§         Menambah penghasilan masyarakat.

         Keuntungan – keuntungan tersbeut di atas tidak hanya akan mampu menjaga kelestarian sumber daya alam yang semakin hari semakin terancam keberadaannya, akan tetapi juga dapat memperbaiki kondisi perekonomian masyarakat setempat.

         Sistem Hutan Kerakyatan juga merupakan suatu gerakan untuk penghormatan dan perlindungan masyarakat adat dan masyarakat local. Hanya saja  perkembangnannya bisa dibilang masih sangat lambat. Menurut Muayat Ali Muhshi (2001 : 2), Lambatnya perkembangan Sistem Hutan Kerakyatan ini di sebabkan oleh beberapa faktor antara lain :

1.         Kurang tegasnya kebijakan pemerintah dalam pengakuan terhadap system dan praktek pengelolaan hutan berbasis masyarakat.

2.         Masih adanya sikap saling tidak percaya antara pihak – pihak yang berkepentingan dengan hutan.

3.         Masih kuatnya attitude birokrasi sebagai penguasa, pengatur dan pengontrol.

4.         Masih kurang berkembangnya instrumen – instrumen untuk pemberdayaan dan pelayanan masyarakat.

5.         Kuatnya dorongan atau daya tarik pengusaha hutan hanya sebagai pengusaha kayu.

6.         Masih kurang tersedia dan kurang tersebarnya informasi mengenai keberadaan Sistem Hutan Kerakyatan.

 

2.   Penanaman Pohon Kehidupan (PPK)

         Penanaman Pohon Kehidupan dilakukan pada daerah Hutan Lindung, terutama Kawasan Penyangga. Tanaman yang dipilih untuk program ini adalah tanaman yang hasilnya berupa non kayu (Multi Purpose Tree Species dan Karet). Berdasarkan Rencana Teknis Rehabilitasi Hutan dan Lahan (2001),  pelaksanaan Penanaman Pohon Kehidupan memiliki tujuan antara lain :

§         Kelestarian kawasan Hutan Lindung tetap terjaga

§         Mengurangi ketergantungan masyarakat di sekitar kawasan tarhadap hasil hutan.

§         Meningkatkan kesejahteraan masyarakat, karena Produk dari Multi Purpose Tree Species dan Karet memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.

         Pelaksanaan Penanaman Pohon Kehidupan di Kabupaten Kapuas Hulu, pada dasarnya memiliki gambaran yang hampir sama dengan Hutan Rakyat. Keberhasilan penyelenggaraan kegiatan tidak merata, hanya pada daerah – daerah tertentu saja yang mendapat tanggapan positif dari masyarakat. Padahal kalau melihat kondisi Hutan Lindung saat ini yang kerusakannya sebagian besar diakibatkan oleh campur tangan manusia, pelaksanaan Progran PPK merupakan salah satu solusi terbaik untuk penanggulangan masalah tersebut. Seharusnya pihak – pihak yang terkait, baik masyarakat maupun pemerintah  menyadari akan hal tersebut.

         Kegiatan Penanaman Pohon Kehidupan merupakan bentuk kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan yang dilakukan pada kawasan Hutan Lindung. Keberlanjutan dan keberhasilan kegiatan ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurut Muayat Ali Muhshi (2001 : 5), salah satu faktor yang mempengaruhi keberlanjutan dan keberhasilan kegiatan tersebut adalah kondisi ekologi dan social ekonomi masyarakat setempat. Kondisi ekologi dan social ekonomi yang didorong oleh faktor – faktor pasar akan mempengaruhi masyarakat sekitar untuk melakukan penebangan secara liar, artinya penebangan kayu lebih didorong oleh faktor ekonomi.

 

3.   Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan

         Menurut Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tentang Kehutanan Pasal 42 ayat 2, menyatakan bahwa Penyelenggaraan rehabilitasi hutan dan lahan diutamakan pelaksanaannya melalui pendekatan partisipatif dalam rangka mengembangkan potensi dan memberdayakan masyarakat. Hal ini dimaksudkan agar dalam usaha menjaga kelestarian hutan bukan hanya dari Lembaga atau instansi terkait saja yang melaksanakannya, akan tetapi masyarakat sebagai elemen yang secara langsung dapat memanfaatkan dan merasakan efek dari pengelolaan hutan baik yang positif maupun negatif diharapkan untuk dapat menyadari akan pentingnya terjaga kelestarian hutan. Tetapi hal ini pula yang menjadi salah satu kendala utama bagi pihak Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kapuas Hulu, di mana tidak semua masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam program Rehabilitasi Hutan dan Lahan ini bisa diberi pengertian tentang arti penting dalam usaha menjaga kelestarian hutan yang dimaksud. Sehingga realisasi program tersebut pun tidak dapat diterapkan secara merata. Belum lagi kendala - kendala lain yang cukup berpengaruh dalam kelancaran pelaksanaan program ini, yaitu antara lain :

Ø              Semakin luasnya kawasan hutan yang terdegradasi akibat dari perambahan, pencurian kayu dan illegal logging yang belum dapat dihentikan , kebakaran hutan yang masih belum mampu diatasi dengan baik atau pun penyebab lainnya.

Ø      Kualitas dan pemanfaatan IPTEK yang masih rendah.

Ø      Sebagian besar penduduk Kabupaten Kapuas Hulu yang berdomisili di sekitar hutan masih memiliki daya ketergantungan terhadap hutan yang relatif tinggi, di samping produktifitas tanaman perkebunan yang masih rendah.

Ø      Penegakan supremsi hukum yang belum sepenuhnya ditegakan, sehingga kegiatan – kegiatan yang merugikan dan mengancam kelestarian hutan masih belum sepenuhnya terawasi.

Ø      Adanya konsep top – down (berupa rekomendasi teknis) dari Pemerintah Pusat yang selama ini selalu dianggap lebih baik dari teknologi masyarakat lokal menyebabkan adanya pemaksaaan dan penyamarataan teknologi tertentu terhadap wilayah yang sangat luas dengan kondisi sosial, ekonomi dan budaya yang beragam.

Ø      Tidak berkembangnya kelembagaan masyarakat sehingga menciptakan biaya manajemen yang tinggi.

Ø      Kendala yang berasal dari dalam Dinas Kehutanan dan Perkebunan sendiri, seperti kualitas sumber daya manusia yang masih belum memadai, atau pun kendala – kendala lainnya.

         Berdasarkan Konsepsi Penyelenggaraan Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, ada beberapa strategi yang dapat dibangun untuk mengatasi masalah tersebut, yaitu :

Ø      Distribusi kewenangan kepada masyarakat dalam pengambilan keputusan yang menyangkut aspek kelembagaan dan teknis. Dengan batasan kewenangan, hak dan kewajiban yang jelas, maka akan mendorong masyrakat untuk berpertisipasi, karena resiko dan gambaran manfaat yang diperoleh dapat diperkirakan sebelumnya.

Ø      Membangun system insentif kelembagaan. Strategi ini ditempuh untuk menciptakan atuan main yang jelas yang dibangun secara partisipatif sabagai acuan keterlibatan masyarakat dalam penyelanggaraan reboisasi dan rehabilitasi lahan. Sistem insntif ini tentu saja satu paket dengan system sanksi yang jelas bagi pelanggar aturan main yang telah disepakati.

Ø      Menentukan kriteria dan indicator – indicator kelembagaan dan teknis secara bersamaantara pemerintah da masyarakat. Strategi ini juga dimaksudkan untuk menciptakan aturan main yang partisipatif.

Ø      Mendayagunakan organisasi tradiaional yan mengakar di masyarakat. Dengan pengembangan kelembagaan asli setempat, maka diharapkan agar masyarakat merasa nyamandan merasa menjadi subyek dalam penyelenggaraan reboisasi dan rehabilitasi lahan.

Ø      Menetukan kemampuan dan kesesuaian lahan secara partisipatif Strategi ini dimaksudkn agar masyarakat secara berkelompok dapat merencanakan penggunaan lahannya sesuai dengan kemampuan guna mendapatkan manfaat yang optimal dan berkelanjutan.

Ø      Mengembangkan komoditas unggulan yang mempunyai prospek pasar. Dengan pengembangan jenis komoditas yang mempunyai prospek pasar bagus akan mendorong masyarakat untuk secara interaktif terlibat dalam proses penyelenggaraan reboisasi dan rahabilitasi lahan.

Ø      Menerapkan teknologi tepat guna. Teknologi yang diterapkan merupakan teknologi yang bersifat adatif dan sudah teruji efektifitasnya serta diterima secara suka rela olaeh msyarakat.

         Luasnya kerusakan sumber daya hutan serta lahan kritis telah menyebabkan mundurnya kualitas lingkungan hidup yan anatar lain diindikasikan dengan rendahnya produktifitas lahan, tingginya laju erosi dan besarnya peluang terjadinya banjir dan kekeringan yang  akan mengakibatkan mundurnya kualitas kehidupan. Oleh karena itu upaya rehabilitasi hutan dan lahan harus mejadi prioritas pembangunan di bidang kehutanan. Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam upaya rehabilitasi hutan dan lahan, yaitu ; kegiatan pengurangan dan penghentian konversi hutan dan kegiatan pembangunan hutan baru (Hutan Tanaman) perlu dikaitkan dengan industri pengolahannya.

         Sesuai dengan Undang – Undang Nomor 41 tahun 1999, paradigma pembangunan rehabilitasi hutan dan lahan kritis mangalami perubahan yang mendasar, yaitu dari pendekatan sentralistik menjadi pendekatan partisipatif dan dari timber management manjadi forest resources management yang melihat hutan atau lahan sebagai satu kesatuan ekosotem yang utuh. Oleh karen itu untuk peningkatan kinerja penyelenggaraan rehabilitasi hutan dan lahan, pengembangan kelembagaan jugan menjadi sangat penting di samping pembenahan aspek teknis.